Generasi 80 dan 90-an tentu akrab dengan Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Atau dikenal juga dengan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN).

Pelajaran itulah yang memberikan pemahaman terhadap murid pada dekade 80 dan 90-an tentang makna dan pentingnya mengamalkan Pancasila.

Dengan adanya pelajaran tersebut diakui bahwa rasa cinta Tanah Air tertanam di hati para generasi muda. Sehingga saat dewasa mereka tinggal melanjutkan pengamalan dasar negara tersebut.

Selama beberapa tahun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menghentikan pelajaran PMP. Tapi baru-baru ini Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Supriano menyampaikan rencana untuk mengaktifkannya lagi.

Baca juga: Dubes Indonesia untuk Arab Saudi Membantah Klaim HTI tentang Khilafah

Diwacanakannya lagi pemberian pelajaran PMP di sekolah berkaitan erat dengan kondisi saat ini. Seperti diketahui, gerakan-gerakan anti-Pancasila dan NKRI terus berkembang.

Ancaman keutuhan NKRI pun terus berdatangan. Ini tidak terkecuali dari para generasi muda, yang tidak pernah mengenal PMP. Sehingga pentingnya Pancasila dalam kehidupan sehari-hari tidak mereka pahami.

Terkait wacana tersebut, Yenny Wahid menyatakan sangat mendukung. Momentumnya sangat pas. Sebab situasi berbangsa kita saat ini membutuhkan generasi muda yang memahami Pancasila dengan baik.

Putri Gus Dur itu juga menyampaikan bahwa rakyat Indonesia harus bangga memiliki Pancasila. Pasalnya bangsa lain tak ada yang memilikinya. Hanya Indonesia yang bisa merangkum prinsip kehidupan berbangsa ke dalam lima pilar seperti itu.

“Kalau kemudian ini (Pancasila) kita jadikan landasan hidup kita, sudah pas banget. Bangsa lain nggak punya, kita jangan sia-siakan,” ujar Yenny di Lapangan Mabes ADpada Kamis (29/11/2018), sebagaimana dilansir Detik.com.

Baca juga: Gus Yahya: HTI Adalah Salah Satu Masalah Terbesar Kita

Situasi global juga menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Terutama karena mudahnya berbagai informasi didapatkan. Seperti sering kita dengar, persoalan yang terjadi di masyarakat sering bermula dari mudahnya akses untuk memperoleh informasi.

Persoalan-persoalan tersebut misalnya menyebarnya hoax atau berita bohong. Terutama sekali yang sifatnya sensitif, seperti sentimen suku, ras, agama, dan antar golongan. Isu-isu ini sangat cair sehingga bisa dijadikan alat untuk berbagai kepentingan. Termasuk dan terutama politik.

Dengan menanamkan nilai-nilai Pancasila sejak dini masyarakat akan siap menghadapinya. Sehingga bisa memiliki pedoman bagaimana menyaring, memahami, dan menggunakan informasi itu dengan baik.

“Sangat urgen karena kebutuhan kita sekarang, dunia global arus informasi yang luas karena kalau anak tidak dipupuk, fondasi sikapnya, fundamentalnya tidak dikuatkan, maka kemudian dia tidak siap hadapi situasi,” ujar Yenny, sebagaimana diberitakan tribunnews.com.