Yenny Wahid sudah malang-melintang dalam pemberdayaan perempuan sejak lama. Terlebih saat ia berkiprah melalui Wahid Foundation.

Berbagai pihak mengapresiasi aktivitasnya itu. Pada Mei 2017 lalu, ia menerima penghargaan dari Universal Peace Federation atas kegigihannya dalam menyebarkan perdamaian di Indonesia.

Apa hubungan antara pemberdayaan perempuan dengan perdamaian?

Baca juga:

Menurut Yenny, sudah saatnya perempuan Indonesia berdaya, dalam arti memiliki kemandirian dalam berbagai hal. Dengan begitu, mereka tidak akan mudah terombang-ambing oleh pengaruh buruk dari luar, termasuk intoleransi dan radikalisme.

Kenyataan bahwa bangsa Indonesia masih berada di bawah ancaman radikalisme menunjukkan kebalikannya. Apalagi dalam sebagian kasus, di mana perempuan malah menjadi aktornya. Ingat teror bom di Surabaya pada Mei 2018 lalu, di mana seorang ibu nekat meledakkan diri bersama anaknya?

Menurut Yenny, perempuan berperan besar merawat toleransi dan perdamaian. Selain itu, perempuan juga sangat menentukan karakter masyarakat kita. Jika perempuan mudah terpengaruh oleh intoleransi maka karakter bangsa kita yang cinta damai akan terancam.

United Nations Women bekerjasama dengan Wahid Foundation dan Muslimat Nahdhatul Ulama tahun lalu mengadakan survei terkait hal ini. Hasilnya menguatkan statemen Yenny di atas. Yaitu peran perempuan dalam menciptakan toleransi dan perdamaian sangat besar.

Survei tersebut menunjukkan perempuan Indonesia yang intoleran saat ini mencapai 55%. Sementara laki-laki yang intoleran mencapai 59,2%. Angka tersebut tentu cukup mengkhawatirkan.

Untuk menekannya, pemberdayaan perempuan harus digalakkan. Yang paling utama, menurut Yenny, dalam bidang ekonomi dan kesetaraan gender.

Perempuan Indonesia harus sadar bahwa sudah bukan zamannya mereka hanya menjadi ‘teman hidup’ seorang laki-laki. Mereka harus mandiri. Berdiri menentukan arah hidupnya sendiri. Tidak lagi bergantung pada sang suami.

Ruang untuk berkarya sudah sangat luas. Tak ada alasan sekadar menunggu uluran nafkah dari suaminya. Kedudukan mereka dengan sang suami juga setara. Mereka boleh setuju dengan pemikiran suami, tapi tak dilarang untuk berbeda, mengkritik, bahkan menolak.

Tidak seperti dulu, di mana perempuan hanya boleh menurut.

Intoleransi di kalangan perempuan bisa menjadi gerbang tindakan-tindakan radikal. Ini mudah kita mengerti. Perempuan adalah ‘sekolah pertama’ bagi anak-anaknya. Jika ‘sekolah’ tersebut sejak awal menanamkan intoleransi pada ‘sang murid’ maka akan lahir generasi yang intoleran.

Itu sebabnya, mengedukasi perempuan agar mau menjaga dan memperjuangkan toleransi tidak bisa dipandang sebelah mata. Hanya dengan cara itu, perdamaian di Indonesia bisa diciptakan.

Foto: dari akun Instagram Yenny Wahid di Forum Internasional Forum for Promoting Peace in Muslim Societies.