Sebuah taman bermain dan belajar untuk anak, berbasis Augmented Reality (AR) dibangun di Sleman, Jogjakarta. Taman edukasi bernama Peace Village ini merupakan taman berbasis AR, pertama di Indonesia. Taman seluas 5000 meter per segi ini berkonsep edutainment.

AR mencoba menggabungkan realitas lingkungan dan tempat yang ada dan nyata dengan menambahkan realitas virtual berupa wujud objek 2 dimensi dan 3 dimensi. Teknologi AR yang populer pernah viral dalam game seperti Pokemon Go. AR dikembangkan secara luas dalam lingkungan edukasi seperti di Taman Peace Village.

Tujuan dibangun taman ini untuk pemberdayaan perempuan dan edukasi anak yang saat ini mengadaptasi teknologi terkini seperti AR. Kemungkinan ke depan akan dikembangkan memakai pendekatan IOT (Internet of Things), dan Virtual Reality.

Peace Village di bawah management Awadah Group ini baru saja soft launching pada Sabtu, 22 November 2019. Tepatnya dalam event Distrupto 2019 di Plaza Indonesia, Jakarta. Yenny Wahid sebagai penggagas Taman Peace Village, berharap adanya taman AR ini, komunitas dan pemberdayaan perempuan dan anak bisa tumbuh dan berdampak nyata.

“Didukung Augmented Reality pengalaman yang menyenangkan dan mendidik akan hadir di area taman Peace Village, ” jelas putri kedua Gus Dur ini sembari mengabarkan sebagai taman AR pertama di Indonesia.

Acara soft-launching ini diresmikan dengan penandatangan kerjasama Awadah Group dengan AR&Co, sebuah perusahaan pengembang teknologi AR, Virtual Reality, dan AI.

Peace Village didesain menjadi sebuah gerakan yang melibatkan warga di desa-desa untuk menjadi desa yang menerapkan nilai-nilai perdamaian, sekaligus memiliki kemandirian ekonomi.

”Gerakan ini akan mengembangkan program-program pemberdayaan masyarakat pada umumnya dan para perempuan serta anak-anak khususnya di desa-desa untuk mendorong peningkatan ekonomi keluarga mereka,” tutur putri Presiden ke-4 RI K.H. Abdurrahman Wahid ini.

Dalam keseharian, yang tidak kalah penting perempuan didorong membuat usaha kecil dari rumah-rumah untuk membantu pendapatan keluarga. Mereka bisa tetap mengasuh anaknya.

Dalam kesempatan itu, Yenny juga mengatakan bahwa para perempuan juga akan dibekali kemampuan dalam menerapkan nilai-nilai perdamaian di lingkungan mereka masing-masing, sehingga tidak mudah terprovokasi dalam kasus-kasus intoleransi dan konflik kekerasan.

sumber: Tribunnews.com