Bagi Gus Dur, pandangan Islam garis keras adalah buah dari ketidakmengertian. Akarnya adalah kebingungan para pengusungnya dalam mengartikan syariat dan fikih.

Syariat tertuang dalam Al-Quran atau hadis. Karenanya suci atau transendent. Sementara fikih adalah buah pikir ulama terhadap Al-Quran dan hadis itu. Karenanya tidak suci atau mundane.

Baca juga:
Ganti Presiden: Mengapa Indonesia Perlu Belajar Kepada Suriah?
Kelakar Gus Dur dan Mereka yang Ditertawakannya

Kelompok Islam garis keras menyamakan keduanya. Bagi mereka fikih bersinonim dengan syariat. Umat Islam di mana pun, menurut mereka, wajib berjihad menegakkannya.

Kelompok ini sekarang semakin banyak. Propagandanya merata. Dibungkus tausiyah, ceramah, dan berbagai kampanye. Mulai di dunia nyata, sampai dunia maya.

Mereka dikenal dengan militansi dan sikapnya yang oportunis. Termasuk mendompleng roda demokrasi. Menjadi penumpang gelap.

Padahal, jelas-jelas Indonesia bukan negara agama. Tapi negara yang beragama. Memihak pada salah satu agama akan mengundang kecemburuan dari agama lain.

Jika itu terjadi maka persatuan kita akan terancam. Sebagaimana pernah terjadi. Ketika sejumlah kalangan ingin menerapkan Piagam Jakarta, pihak lain mengancam keluar dari Indonesia.

Muslim garis keras tak ambil pusing. Bukan hanya terhadap keragaman umat di Indonesia. Tapi juga pemahaman keislaman masyarakat yang berbeda-beda.

Diakui atau tidak, umat Islam di Indonesia tidak seragam. Ada yang tradisionalis ala NU, yang mengikuti pendapat fikih Syafiiyah. Ada yang modernis ala Muhammadiyah, yang men-tarjih pendapat fikih ulama lintas mazhab.

Bagi mereka, cara pandang seperti itu keliru. Sebab artinya umat Islam telah meninggalkan Al-Quran dan hadis. Dan justru fanatik terhadap pemikiran manusia.

Kewajiban muslim di mana pun, kata mereka, adalah menerapkan syariat. Secara kaffah. Caranya? Dengan kembali pada Al-Quran dan hadis.

Orang yang tak setuju dengan pandangan ini mereka tuding melawan syariat. Menentang Islam. Bahkan mendurhakai Tuhan.

Kelompok Islam garis keras membonsai Islam. Dari sebuah ajaran agama menjadi ideologi politik.

“Jargon memperjuangkan Islam sebenarnya adalah memperjuangkan suatu agenda politik tertentu dengan menjadikan Islam sebagai kemasan dan senjata. Langkah ini sangat ampuh, karena siapapun yang melawan dituduh melawan Islam.” –Gus Dur, dalam Ilusi Negara Islam

Jargon “kembali pada Al-Quran dan hadis” terdengar menarik. Tapi itu hakikatnya mengikuti tafsiran mereka terhadap kedua sumber tersebut.

Ini adalah lubang menganga dalam imajinasi “Islam kaffah” yang mereka maksud.

 

*Sumber gambar: https://www.signature-reads.com (https://goo.gl/rrkUwU)
**Setiap artikel/opini yang dimuat di NU Pinggiran menjadi tanggung jawab penulisnya. NU Pinggiran hanya kanal informasi dari setiap kontributor.