Setidaknya ada tiga masalah besar yang sedang dihadapi dunia saat ini, menurut Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid, dalam konferensi internasional Meeting of Minds (MeMinds) di Opus Grand Ballroom, The Tribrata, Jakarta, Rabu (11/12). “Semuanya berujung dan berkonsekuensi pada masalah perekonomian manusia di dunia,” tandas Yenny.

Ketiga masalah tersebut, pertama, distrupsi teknologi. Kedua, perubahan iklim, dan ketiga kesalahpahaman antar-iman. Ia melanjutkan, adanya distrupsi teknologi, akan mengubah banyak pekerjaan. Otomasi dan kecerdasan buatan, bisa memusnahkan seluruh industri dan mengarahkan pada penciptaan lapangan kerja baru, sementara di sisi lain jutaan orang terancam kehilangan pekerjaan. Inilah kekhawatiran yang diungkapkan putri kedua dari Presiden ke-4, Abdurrahman Wahid.

Terkait isu perubahan iklim dan bencana ekologi di dunia, Yenny menyimpan pertanyaan penting dan mendasar. Ia menceritakan pengalamannya saat diundang dalam konferensi perubahan iklim ”CoP 25” di Madrid, Spanyol, awal Desember lalu.

”Dalam forum tersebut, saya mengajukan pertanyaan: ”Mengapa konsep tentang surga dan neraka yang abstrak, mampu memotivasi orang untuk mengikuti cara hidup tertentu? Di sisi lain, kita memiliki pengetahuan dan data faktual tentang perubahan iklim, namun tidak mampu menggerakkan orang untuk memasukkan dalam prioritas mereka upaya pencegahan guna menghentikan pemanasan global,” ujar Yenny yang memiliki nama asli Zanubah Arrifah Chafsoh kepada peserta MeMinds Forum dari berbagai negara.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Yenny Wahid (@yennywahid) on

Sementara terkait agama, selain menjadi kekuatan besar sepanjang sejarah, agama juga terpolarisasi dan memunculkan politik identitas, juga seringkali digunakan untuk kepentingan tertentu. Selain isu agama menaikkan, tensi emosional, Yenny tidak menampik adanya isu lain seperti ras dan etnik, kelas sosial, dan jurang besar si kaya dan si miskin yang digunakan untuk kepentingan tertentu.

Dalam forum diskusi tersebut, Yenny Wahid, mengajak berbagai elemen bangsa untuk menghadapi dan mengatasi ancaman krisis global yang membutuhkan kesadaran bersama. Menurutnya, perlu inisiatif untuk menjembatani kesenjangan dan menyatukan ide-ide dalam mengonsolidasikan berbagai sumber daya yang ada.

sumber berita: JPPN 

Foto: Markus Spiske on Unsplash