KH Abdurrahman Wahid

Melihat situasi Indonesia sekarang ini, khususnya dalam bidang politik menjelang Pilpres. Saya tiba-tiba rindu KH Abdurrahman Wahid Atawa Gusdur.

Kepala saya dipenuhi aneka pertanyaan. Kira-kira, apa pendapat Gusdur tentang kebohongan Ratna Sarumpaet? Apakah dia akan membela Ratna? Atau sebaliknya, Gusdur diam saja karena menganggap bukan masalah yang penting bagi Indonesia.

Baca Juga: Berbeda Dukungan Politik, Hal Biasa di Keluarga Gusdur

Yang saya rindukan dari Gusdur bukan humornya yang khas itu. Tapi, analisa-analisanya yang tajam. Kalau kata orang kebanyakan, analisa Gusdur yang tajam itu sering diistilahkan sebagai ‘indra ke enam’.

Andai Gusdur masih hidup, pasti bakalan menarik, mendengarkan atau membaca analisanya tentang kemana kasus Ratna Sarumpaet ini bermuara? Saya yakin analisanya pun bukan analisa biasa, bahkan mungkin akan memicu kontroversi.

Ketajaman analisa Gusdur itu dialami sahabatnya KH Ahmad Mustofa Bisri. Saat itu, Gusdur dan Gusmus masih sekolah di Al-Azhar, Mesir. Beberapa bulan sebelum terjadi G30S PKI, Gusdur mendatangi Gusmus di asramanya.

Kepada Gusmus, Gusdur menerangkan soal kemungkinan terjadi peralihan kekuasaan di Indonesia. Artinya Presiden Soekarno diprediksi lengser. Gusmus tak percaya, menganggap Gusdur sedang ngigau, karena saat itu presiden Soekarno sedang jaya-jayanya.

Tapi akhirnya, prediksi Gusdur itu benar adanya. Tentara VS PKI, meletuslah G30S PKI. Soekarno pun lengser digantikan Jendral Soeharto (Gusmus,2004).

Bagaimana Gusdur bisa membuat analisa yang tajam? Ini mungkin berkaitan erat dengan kebiasaannya yaitu tekun membaca. Kapan saja, dimana saja, Gusdur selalu membaca. Ditangannya selalu ada buku. Termasuk dalam kereta atau sedang dalam antrian.

Baca juga: Durian Termahal di Dunia

Gusdur paling suka membaca novel. Membaca novel melatih imajinasi. Melatih bagaimana berfikir dengan runut. Selain novel Gusdur juga membaca majalah berbahasa asing. Favoritnya majalah Times, Newsweek atau The Economics.

Kata Gusmus, dalam ‘Gusdur Garis Miring PKB’. kalau sudah membaca, Gusdur suka abai pada semua hal disekelilingnya. Saat membaca, Gusmus selalu merasai dicueki oleh Gusdur. Dianggap tidak ada didekatnya.

Tapi bagi Gusmus ada hikmahnya. Dia jadi ketularan suka baca buku. Agar dia tidak planga-plongo sendirian saat Gusdur baca buku, Gusmus pun bawa buku bila sedang bersama Gusdur.