Santri itu salah satu ciptaan Allah yang unik. Kepercayaan dirinya luar biasa. Kalau seorang santri lulus dari pesantren, ia akan tetap percaya diri menikah meski belum mempunyai pekerjaan. Ini berbeda dengan seorang sarjana.

Demikian penuturan Kyai Ahmad Muzammil. Kyai muda asal Pulau Garam ini adalah pengasuh Pondok Pesantren Rohmatul Umam Kretek, Bantul, Yogyakarta. Selain itu beliau juga sering tampil dalam forum tadabburan Maiyah yang digagas oleh Cak Nun.

Dalam sebuah video yang diunggah di Youtube, Kyai Muzammil berusaha membesarkan hati para jomblo. Menurutnya, jodoh itu sudah diatur bersamaan dengan kelahiran kita ke dunia. Jadi, tak ada alasan khawatir tidak menikah. Apalagi santri.

Sarjana tak akan berani menikah sebelum punya pekerjaan. Sebagian bahkan membuat standar yang menyulitkan dirinya sendiri. Bukan hanya harus punya pekerjaan, tapi juga pekerjaan tetap. Bukan hanya pekerjaan tetap, tapi juga pekerjaan yang mapan.

Baca juga: Bendera Tauhid: KH. Marzuki Mustamar Mengklarifikasi Kesalahpahaman

Kyai Muzammil sendiri mempraktikkan hal tersebut. Beliau menikah di usia 19 tahun. Sementara istrinya saat itu baru 15 tahun. Keduanya mantap menikah tanpa mengkhawatirkan macam-macam. Bekalnya hanya kepercayaan diri.

“Makanya Sampeyan jangan takut-takut menikah! Jangan anggap istri itu sebagai beban! Bagi saya, istri itu kolaborasi,” terang beliau.

Tapi kepercayaan diri itu harus memiliki pondasi yang kokoh. Kepercayaan diri tersebut harus berjangkar pada iman kepada Allah Taala. Kita harus percaya diri, tapi jangan sampai kepercayaan diri itu bersandar pada kehebatan diri kita sebagai makhluk.

Sebab kalau seperti itu, lama-lama bisa musyrik. Menuhankan diri sendiri.

Maka tugas para santri adalah menguatkan keyakinan kepada Allah Taala. Bahwa semua diciptakan oleh-Nya, termasuk mereka. Mereka juga harus yakin bahwa mereka diciptakan dengan kelebihan. Tak ada manusia yang diciptakan tanpa kelebihan.

Baca juga: Gus Miftah, Klub Malam, dan Makna Islam Nusantara

Saat ini kita mudah menemukan orang pandai. Tapi sering kita temui, semakin seseorang itu pandai, semakin ia tinggi hati. Santri tidak begitu. Sebab sejak di pesantren, santri dididik untuk menjadi manusia yang pandai sekaligus rendah hati.

Kepandaian memang bisa menjadi modal untuk percaya diri. Tapi di mata santri, kepercayaan diri tetap harus bersandar pada keyakinan kepada Allah Taala. Bukan kepandaiannya itu.

Jadi, seorang santri sebenarnya harus tahu betul bahwa keyakinannya harus dijaga. Sebab dengan keyakinannya itulah rasa percaya dirinya akan terus berkobar.

Ada orang yang kurang yakin bahwa Allah menciptakan manusia beserta jodohnya. Akibatnnya ia tak punya rasa percaya diri. Sehari-hari minder dan berkecil hati. Merasa sendiri, kurang beruntung, tak pantas menikah, dan lain-lain.

 

Sumber foto: https://www.caknun.com/2017/kyai-muzammil-pembawa-acara-fuadus-sabah/