santri pengaji nupinggiran.com

Sedih sekali baca berita ini: seorang guru MTs dilaporkan ke polisi karena menjitak muridnya. Sedih ini berubah jadi geram karena melihat kronologi dalam berita, si murid tampaknya memang songong.

Kejadiannya di Kabupaten Pasuruan, akhir Oktober lalu. Tepatnya Dusun Babat, Desa Randupitu, Kecamatan Gempol. Guru yang dilaporkan namanya Sutrisno, 56 tahun, Guru BK. Si murid yang dijitak inisialnya DN, 15 tahun.

Baca Juga: Dibalik Pernyataan Kontroversial Prabowo

Perseteruan guru dan murid ini bermula senin, 29 Oktober 2018. Si DN dan dua temannya tidak ikut upacara bendera. Mereka baru masuk kelas setelah upacara selesai.

Rupanya, Sutrisno memergoki ketiganya. Sebagai guru BK, dipanggillah. Setelah ditanya-tanya, diberilah sanksi: membaca surah yasin. Karena ketiganya tidak bisa, sanksi pun diganti: membersihkan tong sampah di sekolah.

Sampai disini, semua berjalan normal. DN tidak melawan. Dia membersihkan tong sampah. Begitu selesai, DN dan dua temannya melapor bahwa sanksi telah diselesaikan.

Sutrisno pun ngecek. Ternyata masih ada tong yang belum bersihkan. Dari enam tong sampah di sekolah, hanya tiga yang dibersihkan. Sutrisno pun menyuruh DN dkk melanjutkan membersihkan tong sampah.

Rupanya, perintah itu membuat DN kesal. Dia pun mengumpat kata kasar ke Sutrisno. “Jancuk iku”. Seperti dimuat liputan6.com.

Diumpat muridnya, Sutrisno kaget, dia pun menjitak pipi DN dua kali. DN melawan. Dia keluar kelas, ke parkiran, nyalakan motor dan bleyer berulang kali. Sambil mengancam Sutrisno akan melaporkan ke orang tuanya.

Entah apa yang diceritakan DN pada Sochib, bapaknya. Yang pasti, esoknya harinya, Sochib mengantarkan anaknya ke Polsek Gempol untuk melaporkan Sutrisno. Saya berharap ada solusi, bisa diselesaikan lewat mediasi polisi.

*********

Soal pukul memukul itu, saya jadi teringat sewaktu saya nyantri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep. Saya masuk pada 1997.

Saya mendaftar bakda duhur. Sore harinya, sudah kena sanksi karena telat datang ke masjid. Oleh muallim, sebutan pengurus pondok, saya dan sekitar 10 orang dijejer di halaman masjid.

Baca Juga: Menangkap Pencuri dengan Obat Sakit Perut

Tangan kami diminta dibuka. Lalu dengan sebuah tasbih, tangan kami dipecut, sakit sekali. Saya yang masih anak baru menangis.

Sebenarnya, sebagai santri baru, saya mestinya tidak disanksi. Ada keringanan. Namun, saya lupa tidak mengenakan tanda pengenal santri baru saya, sehingga oleh muallim dikira santri lama.

Sepekan kemudian, saya dijenguk oleh ibu. Saya ceritakan apa yang saya alami. Reaksi ibu mengejutkan saya, dia tersenyum mendengar cerita saya dan bilang: kalau kau tak melanggar, tidak akan dihukum.

Itu aturan kiai, kau harus ikuti, tak boleh mengeluh. Ada hikmah, ada berkah dibaliknya. Kira2 begitu nasehat ibu yang saya ingat waktu itu.

Menghormati guru adalah perkara wajib bagi penuntut ilmu. Ia Tidak hanya berlaku yang santri pesantren, tapi juga siswa di sekolah umum.

Sayyidina Ali, bahkan mengisyaratkan, hormat pada guru itu hormat yang buta. Tak peduli latar belakangnya, riwayat hidupnya, bahkan mungkin seorang kriminal sekalipun, selama mengajarkan sesuatu. “fa ana abdun” “maka saya hambanya”. Begitu kata Sayyidina Ali.

Jangan sampai mengumpat pada guru. Merasa lebih pintar dari guru, sangat tidak disukai oleh Allah SWT. Ini dialami imam Ibnu Malik, pengarang kitab Alfiyah, kitab tertinggi ilmu alat, ilmu yang mendasar bagi siapa saja yang ingin bisa baca kitab kuning atau kitab gundul.

Setelah berhasil mengarang kitan Alfiyah, imam Malik bergumam dalam hati, dia merasa lebih pintar dari gurunya. Lalu, Allah murka, semua hafalan disirnakan dari ingatannya.

Imam Malik tersadar atas kesalahannya. dia pun meminta maaf pada gurunya. Allah kemudian mengembalikan semua hafalannya dan meninggikan derajatnya.

Saya jadi penasaran, murid yang melaporkan gurunya itu, kelak saat dewasa akan menjadi apa?