Orang Madura, semuanya saya kira, pasti senang tol Suramadu digratiskan oleh Presiden Joko Widodo. Tapi, tetap saja, muncul pro dan kontra di masyarakat. Spesifiknya pro-kontra itu antara Cebong dan Kampret. Kedua kubu saling nyinyiran di media sosial.

Para kampreters misalnya mengaitkan gratisnya Suramadu sebagai strategi politik Joko Widodo untuk meraih suara mayoritas di Pulau Madura saat Pilpres 2019.

Baca Juga:

h://nupinggiran.com/lakpesdam-nu-surabaya-pengibaran-bendera-hti-adalah-makar/

Saya kira anggapan ini wajar, karena digratiskan jelang Pilpres. Meski Presiden Jokowi sendiri membantah ada muatan politisnya. Katanya, jika kebijakan itu bermuatan politis, akan lebih efektif hasilnya jika dilakukan pada Mei atau April 2019 nanti.

Cebongers, istilah yang selama ini melekat sebagai ‘olok-olokan’ bagi pendukung militan Presiden Jokowi. Pasti membela dong dan ada saja akalnya. Misalnya, ada postingan di pesbuk berbunyi: kalau tak setuju Suramadu gratis, kampret sebaiknya lewat Kamal saja.

Kamal yang dimaksud adalah nama kecamatan diujung barat Kabupaten Bangkalan. Kamal dulu terkenal karena ada pelabuhan kapal penyeberangan Ujung-Kamal.

Sekarang, pelabuhan Kamal telah mati suri, tak layak lagi menyandang gelar ‘pelabuhan tersibuk di Asia Tenggara’. Salah satu penyebabnya adalah jembatan Suramadu. Kampreters lalu memprediksi pelabuhan Kamal akan ditutup. Sebab, Suramadu tidak digratiskan saja, pelabuhan Kamal sudah megap-megap pendapatannya. Dikurangi karyawannya, banyak pedagang menutup tokonya.

Baca Juga:

https://nupinggiran.com/tertawa-bersama-gus-dur-dari-amien-rais-sampai-winston-churchill/

Tapi, perang komentar antara kampter dan cebong sebenarnya tidak terlalu menarik. Alurnya begitu-begitu saja. Sudah tertebak jurus nyinyirnya.

Saya justru tertarik pada pendapat seorang ustad kampung. Guru ngaji anak saya. Katanya, penggratisan itu, pasti akan meningkatkan ekonomi di Madura.

Biaya pengiriman barang dan jasa pasti bakal lebih lancar masuk Madura. Sebab tanpa biaya. Investor juga akan masuk ke Madura, menanam duitnya, bikin usaha. terciptalah lapangan pekerjaan baru, pengangguran lantas berkurang.

Tapi, kata ustad kampung itu, yang bakal diuntungkan Kota Surabaya.

“Loh, kok bisa?,” Tanya saya penasaran.

“Orang Madura kerja keras, cari uang di Madura, tapi uang yang diperoleh akan dihabiskan di Surabaya,”

“Suramadu tidak gratis saja, orang Madura beli susu ke Surabaya karena lebih murah 2 ribu perak,”

“Apalagi digratiskan. Uang dari Madura akan mengalir deras ke Surabaya. Mereka yang butuh apa ke Surabaya, pastilah ekonominya menengah ke atas, bisa habis jutaan sekali belanja,”

“Agar itu tak terjadi. Kuncinya, Pemda di Madura harus mengantisipasinya. Pembangunan harus disegerakan. Bukan hanya pembangunan yang menciptakan lapangan kerja tapi juga ada hiburannya,”

Baca Juga:https://nupinggiran.com/horor-pesantren-ketika-teman-teman-saya-kerasukan-jin-penunggu/

Saya kira ada benarnya, sebab saya sendiri, bila mau bikin hajatan. Beli buah, daging dan bumbu dapurnya ke Surabaya. Sebab ke Surabaya bukan hanya belanja, sekalian jalan-jalannya.

Begitulah, ditengah pusaran pro dan kontra, yang abadi itu adalah dilema. Untuk menghilangkan dilema, orang Madura punya cara efektif yaitu menjajal lewat Suramadu. Seolah tak pernah lewat disana, seolah Suramadu baru dibuat.

Kata mereka yang sudah menjajal Suramadu pasca digratiskan. Ada suasana berbeda, sejuk anginnya berbeda, panas mataharinya juga berbeda.

yang tetap sama, adalah orang-orang yang melintas di Suramadu. selalu tergesa-gesa, selalu ngebut, seolah ingin cepat sampai ke Surabaya.