PAMEKASAN, KOMPAS.com — Menunaikan ibadah haji ke Mekkah dan Madinah, bagi masyarakat Madura, Jawa Timur, umumnya tidak cukup hanya bermodalkan ongkos naik haji saja. Tetapi harus menyiapkan biaya lainnya yang lebih besar dari ongkos naik haji. Sebab, di Madura ada berbagai macam tradisi yang dilakukan sebelum berangkat haji.

Tradisi itu dilakukan tiga kali, yakni sebelum berangkat, saat haji dan setelah tiba dari naik haji. Sebelum berangkat haji, calon jemaah haji biasanya menggelar pesta atau selamatan dengan mengundang semua sanak famili, tetangga, dan ulama dalam sebuah doa bersama. Kegiatan itu tujuannya sebagai tanda syukur bahwa tidak semua orang, baik yang memiliki harta lebih, kesehatan dan waktu, bisa menunaikan ibadah haji.

“Orang bisa berangkat haji itu harus disyukuri. Sebagai tanda syukur, digelar doa bersama dengan mengundang famili, ulama, dan para tetangga,” ungkap Zainullah, warga Desa Tentenan Timur, Kecamatan, Larangan, Kabupaten Pamekasan, Jumat (27/9/2013).

Biaya selamatan sebelum keberangkatan bisa menghabiskan jutaan rupiah. Hal ini tergantung jumlah udangan yang disebar calon jemaah haji. Kebiasaan orang Madura, udangan selamatan haji di atas 500 orang. Semua sanak famili yang ada di luar daerahnya dundang.

Saat jemaah berangkat haji, diantar oleh ratusan orang dari famili dan tetangga ke tempat dimana jemaah dilepas oleh pemerintah setempat. Ini sifatnya sukarela. Yang mau ikut hanya bermodalkan kendaraan roda empat saja. Keluarga jemaah haji hanya menyiapkan makan sebelum berangkat, dan saat menunggu keberangkatan calon haji.

Saat datang dari menunaikan haji, jemaah dijemput dengan meriah. Puluhan kendaraan roda empat dan ratusan kendaraan roda dua mengiringi kedatangan jemaah. Bagi pemilik kendaraan roda empat, hanya diberi makan saja sebelum berangkat menjemput dan setelah tiba di rumah jemaah. Sementara untuk roda dua, selain diberi makan sebelum menjemput dan saat datang dari penjemputan, mereka juga diberi ganti bensin.

Biaya selama kedatangan jemaah ini juga menghabiskan jutaan rupiah. Selama 40 hari, jemaah haji yang sudah selesai menunaikan ibadah dengan baik dan sempurna di Makkah dan Madinah, didatangi oleh sanak kerabat, tetangga, para kenalan dan ulama. Mereka datang untuk meminta doa keberkahan dari ibadah haji.

Diyakini masyarakat Madura, jemaah haji selama 40 hari dari kedatangannya dari Makkah dan Madinah, do’anya lekas dikabulkan Allah. “Bagi warga yang datang ziarah ke keluarga haji, diberi makan dan minum serta mereka diberi suvenir khas Timur Tengah, seperti dupa, sajadah, tasbih, minyak wangi, kerudung, baju, songkok haji, sorban dan berbagai sofner lainnya,” ungkap Zainul, yang pernah melayani dua empat saudaranya yang sudah pernah ibadah haji.

Bagi jemaah haji sendiri, sebelum pulang ke rumahnya, masih belanja oleh-oleh khas dari Arab Saudi. Oleh-oleh itu disesuaikan dengan orang yang akan diberi. Kalau hanya warga biasa, cukup diberi dupa atau kemenyan saja atau ditambah dengan tasbih.

Para kerabat dekat mendapat sajadah, baju, surban atau songkok haji. Sementara itu kalangan ulama mendapat oleh-oleh berupa surban, sajadah, baju, minyak wangi dan lainnya. Setelah 40 hari dari kedatangan haji, digelar selamatan lagi dengan mengundang sanak kerabat dan tetangga.

Namun jumlah undangannya lebih sedikit, antara 40 sampai 60 orang saja. Acara ini untuk mengucapkan syukur karena dia sudah bisa menjalankan rukun Islam kelima itu. “Jika dikalkulasi semua, biaya sebelum berangkat, selama di Makkah dan Madinah, saat datang hingga 40 hari setelah kedatangannya, bisa dua kali lipat dari ongkos haji,” pungkas Zainul.

Penulis Kontributor Pamekasan, Taufiqurrahman

Editor: Farid Assifa

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Inilah Tradisi Warga Madura Sebelum dan Sesudah Berhaji”,

Foto: http://www.koranmadura.com