Ustadz mengingatkan kami agar senantiasa berzikir. Itu sebabnya selepas salat mereka melarang siapa pun langsung ke kamar. “Zikir dulu!” begitu suruhnya.

Pesantren saya memang punya jadwal yang padat. Masing-masing kegiatan diatur begitu ketat. Ya waktunya, ya tempatnya.

Molor sedikit dari waktu yang ditentukan, hukuman sudah menanti.

Aturan untuk ikut berzikir ternyata punya alasan. Tentu selain untuk mengamalkan ilmu yang sudah kami dapatkan.

Teman dekat saya pernah bercerita. Bahwa dulu saat SMP, ia dan dua temannya melihat api terbang di atas kamar.

Kamar santri SMP jauh dari rumah kyai dan masjid pesantren. Lokasinya terpencil, bersebelahan dengan sungai yang penuh rimbun bambu dan berseberangan dengan sawah penduduk.

Pada malam Jumat tiga santri itu mangkir dari kegiatan. Padahal seharusnya mereka ikut Tahlil dan Burdahan.

Dasar anak-anak ‘pilihan’. Tak cukup bolos, mereka juga kabur dari pondok.

Bukan hal mudah kabur melalui gerbang utama. Tentu saja. Itu sebabnya mereka mencari jalan yang lain: menyeberangi sungai dan melintasi sawah di pinggirnya.

Tidak mudah. Apalagi di tengah kegelapan.

Bakda maghrib mereka kabur. Mengendap-endap melewati jalan di samping dapur. Tak ada masalah berarti, meski kaki mereka berkali-kali terperosok ke dalam lumpur.

Setelah senang-senang di pasar malam, mereka kembali. Mungkin saat itu pukul 22.00. Pelarian nyaris sempurna hingga mereka mau kembali dan terhenti di sungai yang harus diseberangi.

Ketika ketiganya melepas baju untuk berenang, saat itulah mata mereka menangkap benda yang tak wajar. Sebuah bola api terbang di atas kepala mereka. Tak terlalu cepat, tapi tanpa suara.

Tiga bocah itu ketakutan bukan main. Di pinggir sungai yang sepi, gelap gulita, dan telanjang. Mau lari ke depan ada sungai. Mau lari ke belakang yang ada hanya sawah.

Alhasil, mereka hanya diam di pinggir sungai. Bersembunyi di balik semak dan daun-daun bambu. Tanpa suara. Hanya terdengar gemericik air yang seakan justru menambah sepinya malam.

Tak lama setelah terbang di atas kepala mereka, bola api itu menghantam genting kamar pesantren. Kamar mereka. Mulut mereka pun komat-kamit entah merapal apa. Wajah mereka tak bisa menyembunyikan rasa takut.

Terdorong oleh keinginan untuk segera pulang, mereka menyeberangi sungai. Mengenakan pakaian, mendaki jurang yang tak begitu curam, lalu menjejak di jalan setapak menuju kamar.

Sampai di kamar mereka terengah-engah. Santri-santri yang sudah siap tidur terkejut. Dari mana tiga temannya itu baru terlihat?

Ketika ustadz menghampiri, ketakutan masih tersirat di wajah mereka. Pertanyaan teman-temannya mereka abaikan. Mereka malah memberondong ustadz dengan pertanyaan. Terutama tentang apa yang baru mereka saksikan.

“Tadi menghantam atap kamar ini, Tadz,” terang salah satu dari mereka.

Ustadz bergeming. Seolah sudah tahu. Tapi jelas sekali seperti menyembunyikan sesuatu.

“Makanya, kalau waktunya Tahlilan ya Tahlilan. Kalau waktunya Burdahan ya Burdahan,” jawabnya.

“Untung gak kena kalian,” tutup beliau, sebelum menyuruh ketiganya membaca Istighfar seribu kali.

Tiga santri itu semakin bingung. Tapi sembari membaca Istighfar, pelan-pelan mereka mulai merasa tenang. Mungkin karena ustadz terlihat bisa mengatasi sesuatu yang mereka takutkan.

 

*Sumber foto: https://goo.gl/Jcf15g