Saat duduk di Madrasah Aliyah (MA) saya sangat antusias dengan perpustakaan. Maklum, bacaan saya dan teman-teman itu-itu saja. Kalau bukan fikih, nahwu, akidah, atau akhlak.

Jarang kami mendapat bacaan di luar tema itu. Bahkan koran saja dibatasi. Hanya boleh satu koran di pesantren, yaitu di mading (majalah dinding).

Baca juga:
Horor Pesantren: Jangan Lagi-lagi Tidur di Mihrab Masjid
Horor Pesantren: Ketika Bola Api Terbang di Atas Kepala Kami

Kyai punya maksud tersendiri dengan hal itu. Yakni agar santri-santri fokus pada pelajarannya. Dan agar tidak terpengaruh informasi negatif dari luar.

Saya sempat menggerutu dengan kebijakan itu. Tapi kini mendukungnya. Apalagi di zaman penuh berita palsu seperti sekarang. Apa jadinya kalau di pesantren santri-santri terpapar hoax?

Kunjungan ke pesantren hanya seminggu sekali. Dibedakan berdasar kelas dan jenis kelaminnya. Di luar waktu itu, jangan harap bisa ke perpustakaan. Apalagi jika gilirannya siswa putri.

Tapi, di mana-mana perpustakaan memang identik dengan tempat yang sepi. Teman-teman saya lebih suka ke kantin atau tidur di kelas daripada ke perpustakaan.

Ini yang menjadi awal obrolan saya dan Munir, teman yang juga sering ke perpustakaan. Suatu hari ia mendengar bisik-bisik pegawai perpustakaan. Bahwa hari sebelumnya ada siswi kelas satu yang ketakutan di perpustakaan.

Saat sendiri di balik rak buku yang tinggi-tinggi itu, ia mengaku melihat buku-buku berjatuhan. Padahal perpustakaan sedang sepi. Petugas pun tak ada, sebab sedang jamaah zuhur.

Mulanya hanya satu buku yang jatuh. Ia mengabaikan. Tapi saat ia membelakanginya, dua sampai tiga buku menyusul berjatuhan. Tak ada orang atau binatang. Angin pun tidak.

Siswi itu sadar ada yang tak beres tatkala tahu sedang sendirian. Awalnya ia memang datang bersama siswi lain. Tapi karena keasyikan, ia ditinggalkan oleh temannya.

Termasuk saat azan zuhur terdengar dan seisi perpustakaan beranjak ke musala.

Siswi itu menjerit kencang sembari berlari ke arah pintu. Malangnya, petugas menguncinya dari luar. Mungkin tak sadar masih ada siswi di dalam perpustakaan.

Siswi yang tertinggal itu menjerit sejadi-jadinya. Melolong-lolong hampir putus asa sebab tak ada yang membantunya. Memecah siang yang sepi karena seisi madrasah sedang salat jamaah.

Air matanya semakin berurai ketika guru dan siswi-siswi berlari ke arah perpustakaan. Menemukannya menggedor-gedor sambil berteriak meminta tolong.

Ketika akhirnya petugas datang, siswi itu hampir mati lemas. Mungkin karena ketakutan.

Di belakangnya, di balik rak-rak yang berderet, buku-buku tampak berserakan. Jelas karena sesuatu yang disengaja.

 

*Sumber foto: https://womantalk.com