Hoax memapar sendi-sendi pengguna gadget nyaris setiap hari. Kekhawatiran ini sah saja, sebab efek hoax dahsyat sekali; menimbulkan fitnah dan menghancurkan kemanusiaan, bahkan sebuah negara.

Lalu apa kabar hoax di pinggiran pedesaan? Apakah hoax mendapat sambutan oleh masyarakat pedesaan? Ingin tahu bagaimana desa tetap damai, barokah, dan rahmatan lil ‘alamin?

Mari kita tanya langsung kepada Tanto Mendut, yang dikenal dengan Presiden 5 Gunung dan dosen pengajar di Pascasarjana ISI Jogjakarta. Seniman nyentrik dan budayawan, saat itu ditemui Fauzan, kontributor NU Pinggiran di Cikini, Jakarta.

Semalam (6/11/2018) baru saja membuka pagelaran Wayang Kulit berjudul Desa Rahmatan Lil ‘Alamin di Rumah Pergerakan Gus Dur, Jakarta Selatan.

Ada kekhawatiran soal hoax yang beredar. Bagaimana kabar desa hari ini, terkait hoax?

Desa tidak bisa selalu dipandang sebagai suatu yang perlu dibantu, penduduknya bisa dibohongi, dan disuruh nyoblos siapa.

Di desa tidak percaya atau tidak kenal hoax. Karena orang pedesaan berinteraksi dan bertemu fisik. Orang yang tidak kenal hoax. Tidak pernah berbohong. Ya, tidak paham hoax.

Sekali lagi adakah hoax membuat resah warga desa?

Di desa pertemuan lima gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) tidak demikian. Tidak ada kegaduhan dan kekhawatiran soal berita bohong/fake news. Hoax memang tidak berpengaruh bagi masyarakat pedesaan yang sibuk bekerja dan gotong royong.

Masyarakat desa di sini, saling percaya (trust) dan saling bantu, dan bertemu fisik. Kepercayaan itu bertemu 24 jam, saat mencangkul, saat butuh dibantu karena ada yang melahirkan, dan seterusnya.

Desa agraris umumnya terutama di lingkungan empirik lima gunung di Kabupaten Magelang yang terutama tidak kehilangan intensitas rutin pertemuan panca indra seperti di sawah ladang, di rombongan, pengajian, pergi bersama di latihan seni rakyat desa di gotong royong membuat rumah.

Saling membantu di desa itu akal sehat biasa. Tidak lalu dikira itu jadi orang baik. Jadi kalau kita beramal itu bukan suatu yang hebat-hebat banget, tapi suatu yang biasa. Natural intelligence, itu cerdasnya dari Allah. Bukan dari gadget bikinan dunia industri, untuk tidak ke berhala artificial inteligence.

Beda dengan di kota, ongkos paranoidnya tinggi, misal soal keamanan memasang cctv, satpam, dan lainnya.

Kembali ke hoax. Orang yang tidak suka bohong, jika baca berita palsu tidak terpengaruh. Di desa pengaruh terminologi ‘disingkirkan’ dengan diskusi lisan, jadi cair dan tidak menajamkan sisi emosional.

 

Hoax di sekitar generasi milenial, bagaimana tanggapan Pak Tanto?

Belum tentu juga. Kalau mereka terlalu banyak terpapar informasi kebohongan dan biasa malah “melecehkan” kebohongan itu sendiri, mengabaikan. Beda dengan generasi sebelumnya yang terlalu banyak “ribut” menafsirkan. Anak saya yang 25 tahun, kuliah di Sanata Sharma (Jogja), kalau menghadapi tafsir dengan bahasa sederhana, tapi mewakili zaman, misalnya mengatakan “lebai”.

Nampaknya alam melindungi “orang-orang yang polos”. Ketika strategi hoax ada yang menyebarkan, sepertinya alam sengaja melindungi,Tuhan sengaja melindungi. Saya kira kebaikan Rahmatan itu melindungi kebaikan orang-orang polos kok.

***

Generasi yang milenial itu terlatih surplus teks, banjir foto, tsunami video, tidak gumunan viral ribuan tokoh, followers itu random superior. Bahkan aplikasi tingkat super jorok anehpun sudah biasa tidak kaget.

Istilah lebai, alai, sotoy, baper, itu representasi sosial. Yang saya singkat padat dan pas bagi kita-kita yang konservatif oleh keterbatasan di dunia sosiologi digital. Semua ini saya belajar harian action & researcher di kampus Pasca ISI, dengan teman anak saya di Sanata Dharma, di komunitas lima gunung yang sebagian mahasiswa.

Saya pribadi berusia 64 tahun. Bisa ‘tega’ dan santai diskusi dengan mereka (generasi millenial) tanya ini itu, karena mereka terbuka dengan saya. Selain itu saya juga nekad nimbrung, tidak terbelenggu batas usia dan kriteria tabu, sensitif, dan sebagainya.

Bagaimana pandangan Tanto Mendut soal Gus Dur?

Gus Dur paling manusiawi di antara yang lain. Bahasa Gus Dur itu tidak panjang, sederhana. “Kok repot.” Memang orang-orang banyak repot. ketika orang di media sosial dan sederhana. Gus Dur mewakili kehidupan kemanusiaan yang biasa-biasa saja. Gus Dur lahir di antara orang-orang yang tidak biasa semua. Gus Dur itu orang biasa yang cerdas. Kasih kalimatnya juga biasa, ngejeknya juga biasa. Kalimatnya mudah dipahami. Tapi dibalik gitu aja kok repot itu sebenarnya, dia sudah “tebal” sekali. Gus Dur itu antitesa masyarakat yang amburadul. amburadul teks contohnya, gitu saja kok repot. Amburadul fisik, kok Tuhan mengirimkan seorang tokoh yang secara fisik ‘kurang’ untuk menjadi pemimpin di Indonesia (baca: menjadi Presiden).

Bagaimana Tanto Mendut melihat Indonesia sepeninggal Gus Dur?

Kalau peradaban kan bukan soal jabatan politik, tidak bisa dilihat lima tahun selesai, tapi kesinambungan. Gus Dur hidup terus hingga hari ini. Lahirnya Gus Dur itu mewakili nilai-nilai yang sejati. Nilai-nilai itu melampaui politik, sosial, ekonomi. Yang menariknya ia ada nilai-nilai budayawan, juga agamawan. Dan makamnya tetap kembali ke magnet yang sejati, ke desa di Jombang. Gus Dur itu sederhana, tetapi mewakili sebuah kesaksian kemegahan bangsa ini.