Bupati Bangkalan, Abdul Latief menerima cinderamata dari Ketua PAC GP Ansor Kamal, Arifin. Didampingi Ketua PC GP Ansor Bangkalan, KH Hasani Zubair.

PAC Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan, gelar PKD: Pelatihan Kepemimpinan Dasar. Ia syarat wajib untuk jadi pengurus atau anggota GP Ansor. Pesertanya 50 orang, dari 10 Desa di Kamal.

PKD Kamal digelar di aula PT Bikru Zamzam Travel, satu perusahaan haji dan umroh di Bangkalan, milik Haji Ali Muqoddas. PT Bikru juga sediakan kamar untuk tempat menginap para peserta.

Bila PKD umumnya tiga hari tiga malam. PKD kali ini dipersingkat jadi satu hari dua malam. Agar tidak mengganggu pekerjaan para peserta. Semua peserta wajib mengikuti lima sesi materi. Tidak boleh bolong.

Baca juga: Yenny Wahid bicara tentang Perempuan

Pertama tentang keansoran, kedua tentang keNUan, ketiga tentang kepemudaan, keempat tentang ajaran ahlussunah wal jamaah. Terakhir tentang kebangsaan.

PKD PAC GP Ansor Kamal, dibuka pada Sabtu malam, 6 Oktober 2018 oleh Ketua PC KH Hasani Zubair. “Ansor ini rumah kita, tempat kita menempatkan diri menjadi manusia yang lebih baik. Mari kita rawat Ansor, seperti merawat NKRI dari rongrongan mereka yang mau merusak tatanan negara,” kata dia.

Ketua GP Ansor bangkalan KH Hasani Zubair

Adapun Ketua PAC GP Ansor Kamal, Arifin mengingatkan bahwa menjadi pengurus Ansor sesuatu yang berat. Terlebih pada situasi sekarang ini bertepatan dengan tahun politik. Dimana Ansor kerap dibully dan difitnah dengan alasan yang tidak logis.

“Ansor harus menjadi organisasi yg mendiri, kuat dan tetap membangun sinergi dengan pemerintah untuk terus mendorong dan mengawal program pemerintah demi kemaslahatan umat & kesejahtraan masyarakat,” kata dia.

Bupati Bangkalan Latief Amin juga tampak hadir. Juga sejumlah calon anggota legislatif, baik DPRD Kabupaten, DPR Provinsi, DPD dan DPRD RI. Banner ucapan selamat dari para caleg memenuhi pintu masuk aula PKD.

Setelah pembukaan, dilanjutkan sesi pertama tentang keansoran yang diampu oleh Ketua Lakspedam PCNU Bangkalan Lora Musawwir yang juga pengurus di GP Ansor Jatim.

Baca juga: Dukungan terhadap Jokowi-Makruf

Sesi ini menarik, Ra Sawwir, begitu dia akrab disapa, banyak menerangkan bagaimana GP Ansor berdiri. Pada tahun 1924, KH Wahab Hasbullah mendirikan satu organisasi bernama Syubbanul Wathan. Inilah cikal bakal terbentuknya GP Ansor saat ini.

Ketua Lakspedam PCNU Bangkalan, Lora Musawwir, saat mengisi materi pada PKD PAC GP Ansor Kecamatan Kamal.

Organisasi inilah yang jadi cikal bakal berdirinya GP Ansor. Hari lahir Ansor dirayakan tiap tanggal 24 April, Bila dihitung mundur maka GP Ansor dibentuk pada tahun 1934 atau 12 tahun pasca dibentuknya Syubbanul Wathan.

Dua tahun setelah membentuk Syubbanul Wathan, Kiai Wahab juga terlibat dalam pendirian organisasi Nahdlatul Ulama bersama KH Hasjim Asyari. NU dibentuk pada 31 Januari 1926 di Surabaya.

Bila melihat sejarah ini, maka cikal bakalnya Ansor lebih dahulu terbentuk dibanding NU. Pertanyaannya kemudian, kenapa istilah umum yang diketahui masyarakat justru menyebut GP Ansor lahir dari NU.

Agar mudah memahaminya, kini kembali pada tahun 1908, saat itu muncul gerakan yang dinamai kebangkitan nasional. Sejak itulah muncul berbagai faksi seperti Nahdlatul Wathan pada 1916, taswirul fikri pada 1918 dan nahdaltul Tujjar hingga Syubbanul Wathan 1924.

Berbagai faksi-faksi itu kemudian melebur menjadi satu dan diberi nama Nahdlatul Ulama yang artinya kebangkita ulama. NU muncul karena saat itu pemerintah kolonial Belanda membiarkan ajaran Wahhabi berkembang pesat di tanah air. NU hadir untuk mempertahankan ajaran Ahlus Sunnah.

Baca Juga: Majalah-majalah yang Disukai Gusdur

Setelah melebur menjadi satu, pengurus NU saat itu melihat perlunya membentuk organisasi kepemudaan. Maka dibentuk divisi kepemudaan dengan nama Persatuan Pemuda NU (PPNU), kemudian berganti Pemuda NU (PNU) dan atas saran Kiai Wahab berganti nama lagi menjadi Ansoru Nahdlatul Oelama (ANO).

Ansor adalah gelar yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepala kaum muslimin Madinah yang berhasil menyebarkan ajaran Islam.

ANO sendiri baru diresmikan menjadi bagian dari NU pada Muktamar NU ke 9 yang berlangsung di Banyuwangi pada 24 April 1934. Ketua pertama ANO adalah HM Thohir Bakri. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan hari lahir GP Ansor sampai saat ini.

Tiga tahun kemudian pada kongres ANO ke II di Malang, ANO cabang Malang mengembangkan organisasi kepanduan yang diberi nama Barisan ANO disingkat banoe. Kelak Banoe menjadi cikal bakal Barisan Serbaguna (Banser). Komandan Banoe pertama adalah Mohammad Syamsul Islam yang juga Ketua ANO Malang.

Selama kependudukan Jepang antara tahun 1945 hingga 1949, semua organisasi kepemudaan dibubarkan termasuk ANO dan Banoe. Setelah Jepang kalah dan Indonesia Merdeka, Mentri Agama Republik Indonesia Serikat, Kh Wachid Hasyim saat itu menyetujui diaktifkannya lagi ANO dan Banoe.

Itu atas usul tokoh ANO Surabaya Chusaini Tiway. Namun dengan nama baru: ANO menjadi Gerakan Pemuda Ansor dan Banoe menjadi Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Perubahan nama ini terjadi 14 Desember 1949.