Yenny Wahid, putri mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mendadak terbangun dari tidurnya di malam itu. Hari itu, Jumat, 30 Mei 2014. Sekejap selepas mengatur nafas, dia membangunkan suaminya, Dhohir Farizi.

“Mas, aku barusan mimpi ketemu Bapak,” ungkap Mbak Yenny. Cak Dhohir sontak terbangun. Belum selesai dia mengucek matanya, sang istri sudah meneruskan ucapnya. 

“Pesen Bapak, tulungono wong Solo,” lanjutnya. Cak Dhohir kembali tertegun mendengarnya. Keduanya lalu berdiskusi, mencerna pesan yang dikirim Gus Dur, agar membantu seorang dari Solo. 

Pasalnya, keesokan harinya, keluarga Gus Dur kedatangan seorang tamu penting. Bukan dari Solo tapi Palembang. Dia adalah Hatta Rajasa, mantan Menko Perekonomian.

Sabtu siang, 31 Mei 2014, pukul 12.45, Pak Hatta, sang calon wakil presidennya Pak Prabowo, melawat ke Ciganjur. Dia didampingi istrinya. Tujuannya, bersilaturahmi kepada Ibu Sinta Nuriyah Wahid. 

Tentu saja, ada maksud lainnya juga. Memohon doa restu. Agar keluarga Gus Dur mendukung pasangan Pak Prabowo dan Pak Hatta. Sayangnya, harapan itu bertepuk sebelah tangan. 

Pesan Gus Dur kepada Mbak Yenny, membuat Keluarga besar Gus Dur memilih netral. Mereka menerima semua kandidat calon presiden datang ke rumahnya. Baik Pak Prabowo atau Pak Jokowi.

Memang, hubungan Gus Dur, Pak Jokowi, dan Mbak Yenny terhitung unik. Sebelumnya, saat menjadi pembicara kunci pada Hari Lahir Ke 9, Wahid Institute, pada Kamis, 26 September 2013, Pak Jokowi mendapatkan hadiah spesial. 

Ibu Sinta Nuriyah Wahid menyematkan peci milik Gus Dur ke kepala Pak Jokowi. Peci itu berbahan rotan warna krem serta garis coklat. Itulah simbol dukungan moral Keluarga Wahid kepadanya. 

Maklum, kontestasi Pilpres 2014 mulai menghangat. “Kalau mencalonkan diri, kita siap mendukung. Pak Jokowi layak didukung,” terang Mbak Yenny, mewakili Keluarga Gus Dur, kepada wartawan terkait pemberian itu. 

Jika dilacak, keterikatan antara Gus Dur dengan Pak Jokowi, bahkan sudah terpilin jauh-jauh hari. Saat Pak Jokowi baru enam bulan menjabat Wali Kota Solo. Belum terkenal. Belum jadi buah bibir seantero negeri.

Namun, Gus Dur sudah memilih bertamu ke Solo. Untuk bertemu Pak Jokowi. Dalam sebuah acara dialog kebangsaan di Loji Gandrung, Rumah Dinas Wali Kota Solo, pada 8 Januari 2006.

Dialog itu adalah pembuka acara utama bertajuk “Njejegake Sakaguru Nusantara”, menegakkan lagi tiang utama nusantara. Judul acara yang dipilih Gus Dur sendiri. Seolah, dia mengirim sinyal, penguatan Indonesia akan dimulai dari Solo. 

Dalam diskusi ringan, Gus Dur menegaskan, siapapun yang dikehendaki rakyat bisa jadi presiden. “Termasuk Pak Jokowi ini, kalau dia jadi wali kota yang bagus, kelak bisa jadi presiden,” katanya. Pak Jokowi yang ada di sampingnya, hanya tersenyum simpul.

Kenangan akan acara di Loji Gandrung itu kembali menyeruak. Membuka kenangan lama. Mbak Yenny mereposting foto kegiatan itu pada 1 Mei 2019 di akun instagramnya.

Foto itu viral. Banyak pengagum Gus Dur dan Pak Jokowi yang posting ulang. Terekam gesture keduanya. Termasuk, takzimnya Pak Jokowi mencium tangan Gus Dur. Mat kodaknya, Blontank Poer, yang jeli mengabadikan momen bersejarah itu. 

“Sebuah berkah bagiku pernah mendampingi dua pria luar biasa ini,” tulis Mbak Yenny. Bisa dikatakan, dialah penerus politik Gus Dur. Yang sudah dikenalkan manis, asam, dan asinnya politik sejak muda.

Dimulai dari Gus Dur mendirikan PKB, hingga konflik berkepanjangan terkait kepengurusan PKB dengan Muhaimin Iskandar. Hal itu mendidiknya jadi politisi ulung. Tahan banting dan bernafas panjang. Bak pelari maraton. 

Lulusan master dari Harvard Kennedy School of Government inilah yang selalu menemani Gus Dur bertemu beragam tamu. Dari tokoh politik, tokoh agama, hingga pemimpin negara lain. Hal itu makin menguatkan pandangannya akan pluralitas, keberagaman, keseteraan, hingga hak mereka yang terpinggirkan. Dialah “pintu” terakhir Gus Dur. 

Kiprah dan aktivitasnya seusai wafatnya Gus Dur, bukan menurun. Sebaliknya, intensitas mantan wartawan ini meninggi. Merentang dari merajut kekuatan komunitas, pemberdayaan perempuan, hingga penguatan ekonomi rakyat.

Tak kalah penting, frekuensi pejalanannya ke manca negara meninggi. Di sela-sela konflik agama dan prasangka mayoritas dunia atas Islam yang keras, dialah duta Islam moderat. Mengenalkan praktik Islam rahmatan lil alamin dalam praktik kehidupan warga Indonesia.

Islam yang menebar rahmat, kasih sayang, serta cinta kasih bagi alam semesta. Pesan kerahmatan dalam Islam sendiri tersebar tersebar lebih dari 90 ayat. “Aku tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai (penyebar) kasih sayang bagi semesta alam,” sebagaimana dalam Q.S. al-Anbiyâ, ayat 107.

Terkait hal ini, Mbak Yenny melalui Wahid Foundation mengagas program Desa Damai di 30 desa percontohan. Kegiatan ini tak hanya penguatan ekonomi semata. Tapi sukses menyemai paham perdamaian dan tolerasi bagi warga desa. Tak heran, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui UN Women melirik program ini. 

Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mendadak terbangun dari tidurnya di malam itu. Hari itu, Jumat, 30 Mei 2014. Sekejap selepas mengatur nafas, dia membangunkan suaminya, Dhohir Farizi.

“Mas, aku barusan mimpi ketemu Bapak,” ungkap Mbak Yenny. Cak Dhohir sontak terbangun. Belum selesai dia mengucek matanya, sang istri sudah meneruskan ucapnya. 

“Pesen Bapak, tulungono wong Solo,” lanjutnya. Cak Dhohir kembali tertegun mendengarnya. Keduanya lalu berdiskusi, mencerna pesan yang dikirim Gus Dur, agar membantu seorang dari Solo. 

Pasalnya, keesokan harinya, keluarga Gus Dur kedatangan seorang tamu penting. Bukan dari Solo tapi Palembang. Dia adalah Hatta Rajasa, mantan Menko Perekonomian.

Sabtu siang, 31 Mei 2014, pukul 12.45, Pak Hatta, sang calon wakil presidennya Pak Prabowo, melawat ke Ciganjur. Dia didampingi istrinya. Tujuannya, bersilaturahmi kepada Ibu Sinta Nuriyah Wahid. 

Tentu saja, ada maksud lainnya juga. Memohon doa restu. Agar keluarga Gus Dur mendukung pasangan Pak Prabowo dan Pak Hatta. Sayangnya, harapan itu bertepuk sebelah tangan. 

Pesan Gus Dur kepada Mbak Yenny, membuat Keluarga besar Gus Dur memilih netral. Mereka menerima semua kandidat calon presiden datang ke rumahnya. Baik Pak Prabowo atau Pak Jokowi.

Memang, hubungan Gus Dur, Pak Jokowi, dan Mbak Yenny terhitung unik. Sebelumnya, saat menjadi pembicara kunci pada Hari Lahir Ke 9, Wahid Institute, pada Kamis, 26 September 2013, Pak Jokowi mendapatkan hadiah spesial. 

Ibu Sinta Nuriyah Wahid menyematkan peci milik Gus Dur ke kepala Pak Jokowi. Peci itu berbahan rotan warna krem serta garis coklat. Itulah simbol dukungan moral Keluarga Wahid kepadanya. 

Maklum, kontestasi Pilpres 2014 mulai menghangat. “Kalau mencalonkan diri, kita siap mendukung. Pak Jokowi layak didukung,” terang Mbak Yenny, mewakili Keluarga Gus Dur, kepada wartawan terkait pemberian itu. 

Jika dilacak, keterikatan antara Gus Dur dengan Pak Jokowi, bahkan sudah terpilin jauh-jauh hari. Saat Pak Jokowi baru enam bulan menjabat Wali Kota Solo. Belum terkenal. Belum jadi buah bibir seantero negeri.

Ibu Sinta Nuriyah Wahid menyematkan peci milik Gus Dur ke kepala Pak Jokowi. Peci itu berbahan rotan warna krem serta garis coklat. Itulah simbol dukungan moral Keluarga Wahid kepadanya. Share :  

Namun, Gus Dur sudah memilih bertamu ke Solo. Untuk bertemu Pak Jokowi. Dalam sebuah acara dialog kebangsaan di Loji Gandrung, Rumah Dinas Wali Kota Solo, pada 8 Januari 2006.

Dialog itu adalah pembuka acara utama bertajuk “Njejegake Sakaguru Nusantara”, menegakkan lagi tiang utama nusantara. Judul acara yang dipilih Gus Dur sendiri. Seolah, dia mengirim sinyal, penguatan Indonesia akan dimulai dari Solo. 

Dalam diskusi ringan, Gus Dur menegaskan, siapapun yang dikehendaki rakyat bisa jadi presiden. “Termasuk Pak Jokowi ini, kalau dia jadi wali kota yang bagus, kelak bisa jadi presiden,” katanya. Pak Jokowi yang ada di sampingnya, hanya tersenyum simpul.

Kenangan akan acara di Loji Gandrung itu kembali menyeruak. Membuka kenangan lama. Mbak Yenny mereposting foto kegiatan itu pada 1 Mei 2019 di akun instagramnya.

Foto itu viral. Banyak pengagum Gus Dur dan Pak Jokowi yang posting ulang. Terekam gesture keduanya. Termasuk, takzimnya Pak Jokowi mencium tangan Gus Dur. Mat kodaknya, Blontank Poer, yang jeli mengabadikan momen bersejarah itu. 

“Sebuah berkah bagiku pernah mendampingi dua pria luar biasa ini,” tulis Mbak Yenny. Bisa dikatakan, dialah penerus politik Gus Dur. Yang sudah dikenalkan manis, asam, dan asinnya politik sejak muda.

Termasuk Pak Jokowi ini, kalau dia jadi wali kota yang bagus, kelak bisa jadi presiden. 

Dimulai dari Gus Dur mendirikan PKB, hingga konflik berkepanjangan terkait kepengurusan PKB dengan Muhaimin Iskandar. Hal itu mendidiknya jadi politisi ulung. Tahan banting dan bernafas panjang. Bak pelari maraton. 

Lulusan master dari Harvard Kennedy School of Government inilah yang selalu menemani Gus Dur bertemu beragam tamu. Dari tokoh politik, tokoh agama, hingga pemimpin negara lain. Hal itu makin menguatkan pandangannya akan pluralitas, keberagaman, keseteraan, hingga hak mereka yang terpinggirkan. Dialah “pintu” terakhir Gus Dur. 

Kiprah dan aktivitasnya seusai wafatnya Gus Dur, bukan menurun. Sebaliknya, intensitas mantan wartawan ini meninggi. Merentang dari merajut kekuatan komunitas, pemberdayaan perempuan, hingga penguatan ekonomi rakyat.

Tak kalah penting, frekuensi pejalanannya ke manca negara meninggi. Di sela-sela konflik agama dan prasangka mayoritas dunia atas Islam yang keras, dialah duta Islam moderat. Mengenalkan praktik Islam rahmatan lil alamin dalam praktik kehidupan warga Indonesia.

Islam yang menebar rahmat, kasih sayang, serta cinta kasih bagi alam semesta. Pesan kerahmatan dalam Islam sendiri tersebar tersebar lebih dari 90 ayat. “Aku tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai (penyebar) kasih sayang bagi semesta alam,” sebagaimana dalam Q.S. al-Anbiyâ, ayat 107.

Terkait hal ini, Mbak Yenny melalui Wahid Foundation mengagas program Desa Damai di 30 desa percontohan. Kegiatan ini tak hanya penguatan ekonomi semata. Tapi sukses menyemai paham perdamaian dan tolerasi bagi warga desa. Tak heran, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui UN Women melirik program ini. 

Di sela-sela konflik agama dan prasangka mayoritas dunia atas Islam yang keras, dialah duta Islam moderat. Mengenalkan praktik Islam rahmatan lil alamin dalam praktik kehidupan warga Indonesia. 

Dia diminta mendukung UN Women untuk menduplikasi kesuksesan Desa Damai di Afrika. Sesungguhnya, program ini disokong empat pilar utama. Penguatan ekonomi, penguatan perempuan, penguatan aparatur desa, dan terakhir penguatan nilai toleransi. 

Pilar yang terakhir terhitung unik. Nilai tolerasi membuat beberapa warga desa yang awalnya dikucilkan tetangga karena perbedaan keyakinan, diubah jadi perekat. Rumah mereka jadi tempat berkumpulnya warga berkegiatan ekonomi.

Momen indahnya tolerasi itu tentu membahagiakan dirinya. “Ini kontribusi kecil kami untuk membangun kohesi sosial di tingkat masyarakat,” papar Mbak Yenny.

Tak heran, Harian Republika menganugerahinya sebagai Tokoh Perubahan 2019, pada Rabu 24 April 2019. Bersama empat tokoh lainnya. Dia diangggap berkontribusi besar bagi perubahan Indonesia.

Tentu menarik, menanti hubungan Pak Jokowi dan Mbak Yenny pasca Pilpres ini. Di masa kampanye lalu, Mbak Yenny mati-matian mendukung kampanye Pak Jokowi-KH Ma’ruf Amin. Ikut kampanye keliling Indonesia.

Yang tentu fenomenal, saat perayaan Hari Lahir ke 73 Muslimat Nahdlatul Ulama. Sebagai ketua panitia, Mbak Yenny menunjukkan kelasnya. Mengumpulkan lebih dari seratus ribu ibu muslimat di Gelora Bung Karno (GBK) pada Minggu, 27 Januari 2019.

GBK penuh sesak. Didominasi warna hijau. Acara itu dimulai dengan salat tahajud, salat hajat, salat istigasah dan tahlil. Lantas salat subuh berjemaah dan pemecahan rekor MURI dengan 1.000 khotmil Alquran.

Puncak acara adalah sambutan Presiden Jokowi. Tentu saja, inilah suntikan semangat yang luar biasa bagi mantan Wali Kota Solo ini. Maklum, kampanye berlangsung sangat keras. Kehadiran lebih dari seratus ribu warga Nahdliyin, adalah kebahagiaan luar biasa baginya. 

Konon, dahulu, seusai kemenangan Pilpres 2014, Pak Jokowi sudah menawari Mbak Yenny membantu di kabinet. Namun, tawaran itu ditolaknya secara halus. Persis, sebagaimana dia menolak secara diplomatis tawaran Pak Prabowo untuk maju jadi calon Gubernur Jawa Timur. 

Namun, kini situasi berbeda. Masih dalam akun instagramnya yang memposting foto Pak Jokowi dan Gus Dur, Mbak Yenny menulis lanjutan sikapnya, “Semoga aku bisa mengikuti tauldan mereka, yang mendarmakan hidupnya dalam pengabdian untuk bangsa.”

Sepertinya, sinyal ini makin kentara. Dengan keterlibatan Mbak Yenny dalam kampannye yang sangat serius, Pak Jokowi tentu sudah paham. Kini saat yang paling pas, meneguhkan hubungannya dengan Gus Dur melalui Mbak Yenny. 

Banyak pos kabinet yang pas dengan kapabilitasnya. Ramai kabar beredar di kalangan terbatas, Mbak Yenny digadang-gadang menduduki pos menteri sosial, atau menteri pemuda, bahkan bisa jadi menteri luar negeri.

Namun, perlu dicatat, Pak Jokowi sangat suka menggoreskan namanya dalam lembar sejarah. Dia pernah menabalkan perempuan menjadi Menteri Luar Negeri pertama. Setelah 16 kali, sejak Indonesia merdeka, selalu dijabat laki-laki.

Entah kini, kalau Pak Jokowi ingin mengulanginya lagi. Bisa jadi, dia menunjuk Mbak Yenny sebagai perempuan pertama untuk Menteri Pertahanan. Mirip Gus Dur, memilih Prof. Dr. Juwono Sudarsono sebagai Menteri Pertahanan pertama dari kalangan sipil. 

Jadi, kita tunggu saja.

Ajar Edi

Sumber tulisan: https://www.ngopibareng.id/timeline/antara-gus-dur-jokowi-dan-yenny-4089040